Selasa, 08 Februari 2011

Warga Banyumas Galang Komitmen Perlindungan BMI

Selasa, 08 Februari 2011 0

Komitmen bersama mewujudkan perlindungan buruh migran Banyumas terus digalang oleh Paguyuban Perlindungan Buruh Migran dan Perempuan “Seruni” bersama Forum Solidaritas untuk Buruh Migran (Forsa BUMI) Kabupaten Banyumas. Sabtu (18/12/10), bertepatan dengan hari buruh migran sedunia, Forsa Bumi menggelar diskusi publik dengan tema “Membangun Komitmen Bersama untuk Perlindungan Buruh Migran” di Aula Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Jenderal Soedirman (FISIP UNSOED).

Diskusi tersebut dihadiri oleh berbagai pihak seperti Pemerintah Desa, Kecamatan, Kabupaten, Anggota DPRD, Dinsosnakertrans, Pejabat Imigrasi, Akademisi Kampus, Perwakilan PPTKIS, hingga berbagai lembaga/organisasi swasta di Banyumas. Hadir sebagai pembicara Tyas Retno Wulan (Pusat Penelitian Gender), Yoga Sugama (Anggota DPRD), Kartiman (Dinsosnakertrans), dan Rita (LBH Perisai Kebenaran), selama acara mereka dipandu oleh Jarot, Pegiat Rumah Aspirasi Budiman.

Saat diskusi berlangsung, satu persatu pembicara menyampaikan bebagai upaya perlindungan buruh migran yang telah dilakukan lembaga atau instansi yang mereka wakili. Persoalan yang paling disoroti selama diskusi ialah koordinasi yang kurang padu (sinergi) antara lembaga pemerintah. Yoga Sugama, perwakilan DPRD dengan tegas mempertanyakan janji Bupati Banyumas untuk membangun perekonomian daerah di tiap Kecamatan. “Jika janji Bupati membangun sektor industri daerah terwujud, Saya yakin angka pengiriman TKI akan turun drastis” Tutur Yoga Sugama.

Persoalan sinergi yang belum terbangun antar lembaga pemerintah tentang penanganan buruh migran juga disampaikan Tyas Retno Wulan. 80% persoalan buruh migran dijumpai saat buruh migran masih di Indonesia. Persoalan yang harus segera diurai justru persoalan di dalam negeri, salah satunya adalah membangun sinergi puluhan lembaga pemerintahan yang bersentuhan dengan penanganan buruh migran. “Hal yang sangat menyedihkan adalah statement SBY untuk membekali TKI dengan HP, ini sangat menunjukkan pemerintah tidak paham dengan subtansi persoalan TKI” papar Tyas, Dosen sekaligus Peneliti PPG Unsoed.

Diskusi berjalan semakin menarik, berbagai persoalan yang sebelumnya menjadi batu sumbatan diungkapkan secara terbuka di forum, perwakilan PPTKIS misalnya, mereka mempertanyakan prosedur pembuatan dokumen yang rumit, sehingga berpotensi penyesuaian dokumen atau pemalsuan identitas. Keterangan tersebut ditanggapi perwakilan aparat desa dengan fakta lapangan, bahwa banyak sekali calon buruh migran yang tidak mendapat rekomendasi dari pemerintah desa namun tiba-tiba lolos untuk berangkat ke luar negeri, ini membuktikan ada masalah pada alur rekomendasi dan prosedur keberangkatan TKI.

Diskusi yang masih berjalan menarik harus segera diakhiri moderator karena waktu yang terbatas, namun diakhir diskusi, Rita, perwakilan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Perisai Kebenaran menyampaikan gagasan membuat nota kesepahaman tiga pihak, dalam hal ini Pemerintah diwakili Dinsosnakertrans, PPTKIS diwakili APJATI, dan serikat buruh migran untuk membangun prinsip bersama untuk perlindungan buruh migran Banyumas. Menambahkan gagasan Rita, Tyas Retno Wulan berharap pada berbagai pihak yang hadir dalam diskusi publik, agar rekomendasi tentang upaya membangun sinergi perlindungan buruh migran tidak berhenti setelah diskusi, namun terus dikawal dan ditindaklanjuti

Read More..

Berharap Pulihkan Pertanian, Korban Letusan Merapi Butuhkan Pupuk


Setelah seminggu terakhir posko JMN menerima banyak permintaan logistik dari korban letusan merapi yang mulai kembali ke kampung halamannya. Jum’at 19 November 2010 beberapa pesan singkat masuk ke nomor telepon genggam tim media JMN, salah satu pesan singkat datang dari Didik Mulyani asal Sawangan Magelang yang menyampaikan permintaan bantuan pupuk untuk petani di daerah Magelang yang lahan pertaniannya tertimbun abu vulkanik.

Beberapa pesan dengan permintaan yang sama juga masuk, namun Posko JMN tidak dapat berbuat apa-apa, selain detail data yang belum masuk, pegiat atau relawan di Posko JMN juga belum membicarakan persoalan perbaikan lahan di sekitar lereng Merapi. Pembicaraan pegiat posko masih seputar upaya menyembuhkan tauma lewat inisiasi terapi buku (bibliotheraphy).

Endapan vulkanik dalam waktu tertentu memang mendukung kesuburan tanah, namun pengetahuan pengelolaan tanah setelah letusan merapi menjadi sesuatu yang harus segera disosialisasikan. Sedang disisi lain petani terkena dampak merapi sudah tidak memiliki kekuatan secara ekonomi untuk kembali mengolah lahan.

Sektor ekonomi secara umum dan pertanian secara khusus harus menjadi perhatian pokok bagi pemerintah semala tahap perbaikan (recovery) setelah aktivitas Merapi reda.
Read More..

Nira Kering, Petani Gula Kelapa Kehilangan Mata Pencarian


Gula kelapa diproduksi dari nira yang disadap dari batang buah pohon kelapa. Rasa manis gula kelapa kini tak semanis nasib petani penyadap nira di daerah Magelang. Letusan Merapi sejak 26 Oktober 2010 membuat pohon-pohon kelapa banyak yang mati.

Penduduk Dusun Bubusan Desa Teran Gede Kecamatan Salam Magelang misalnya yang sebagian besar menggantungkan mata pencariannya lewat kegiatan menyadap nira dan memproduksi gula kelapa kini tidak bisa berbuat apa-apa dikarenakan pohon kelapa milik warga mati.



“Karena letusan merapi, buah kelapa menguning dan ketika dibelah sudah tidak ada airnya” ujar Andri (30) salah satu petani nira di Bubusan. Sama halnya warga di Bubusan Salam, Sujarwo (54) warga Dusun Butuh Mungkidan Sawangan Magelang juga mengeluhkan pohon-pohon kelapa miliknya yang mati.

Kejadian tersebut menurut dosen ilmu fisika tanah UGM, Prof Dr Ir Bambang Djatmo Kertonegoro MSc dikutip dari detikcom, Senin (8/11/2010) dijelaskan berbagai tanaman mati karena partikel yang terkandung pada abu vulkanik menempel di daun dan menyebabkan mulut daun tertutup. Hal tersebut menyebabkan daun tidak dapat menyedot oksigen (mengganggu respirasi). Selanjutnya proses fotosintesis menjadi terganggu. Dalam kondisi mulut daun yang tertutup lama, tanaman akan menjadi layu.

Dukungan pakar pertanian dan tanaman untuk meneliti laik tidaknya keasaman tanah yang tertimbun abu vulkanik untuk kembali ditanami sangat diperlukan, sementara masyarakat masih penghasil nira masih mengandalkan kebutuhan sehari-hari dari bantuan Read More..

Selasa, 28 September 2010

Video-video penyiksaan TKI

Selasa, 28 September 2010 0



Hal seperti Anda saksikan hanyalah sebagian, dari ratusan penyiksaan yang telah dilakukan oleh aparat polisi diraja Malaysia. Sikap tegas pemerintah menjadi kunci kebijakan untuk mengurai 'benang rewet' problematika Buruh Migran Indonesia, terlebih menindak tegas oknum/mafia/penjahat dari negeri sendiri. Read More..

Jumat, 24 September 2010

TKI Tunggu Realisasi Kredit Murah

Jumat, 24 September 2010 0


Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang akan bekerja di luar negeri menunggu realisasi kesepakatan Pemerintah Republik Indonesia dan sejumlah bank tentang Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk TKI. Pemerintah memberikan jaminan 80 prosen dari total dana kredit mikro yang jumlahnya bisa 60 juta setiap orang.

Menteri Koordinator Perekonomian, Hatta Rajasa dalam Majalah Tempo 20-26 September 2010, mengatakan penjaminan tenaga kerja penting untuk mempermudah keberangkatan TKI ke luar negeri, sekaligus pemerintah bisa melakukan tindakan pemantauan. Lalu, Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia, Sofyan Basir menjelaskan KUR untuk TKI akan memutus jeratan rentenir. Selama ini para TKI telah menjadi korban lintah darat sejak pengurusan paspor dan visa. Baca Selanjutnya... Read More..

Kamis, 23 September 2010

Cacatan Pertemuan Bersama Bobo Yayasan Air Putih

Kamis, 23 September 2010 0

Rabu, 22 September 2010 Infest mendatangkan tamu dari Yayasan Air Putih. Dia akrab dipanggil Bobo, lelaki lulusan SD yang sekarang mahir teknologi jaringan ini sengaja dijemput disela-sela kedatangannya di Yogykarta. Pada pertemuan sekitar satu jam dia banyak bercerita tentang proses belajar otodidak yang dia lakukan di luar jalur pendidikan formal. “Dalam hidup dibutuhkan keberanian untuk mempelajari sesuatu, mencoba dan melewati kegagalan” tuturnya.

Tentang keberanian untuk mempelajari sesuatu, oleh Bobo dikatakan segala pengetahuan ada jalan untuk mengakses baik lewat buku, internet, atau metode konvensional yang dianggap mujarab, yakni bertanya pada orang lain. Problem utama pengetahuan masyarakat Indonesia adalah dua sikap atas informasi, yakni pertama memiliki informasi namun tidak menghendaki untuk berbagi, kedua membutuhkan informasi tetapi tidak ingin mencari.
Seperti halnya pengetahuan yang terus dibagi dan dipertukarkan, Bobo pun berbicara tentang pentingnya penggunaan pelbagai perangkat lunak sumber terbuka, dimana mekanisme belajar bersama dan saling berbagi sumber kode akan terus dilakukan, hal ini sama sekali tidak mungkin dilakukan pada pengguna perangkat lunak berbayar. Selain itu menggunakan perangkat lunak sumber terbuka bagi beberapa orang adalah keberanian untuk melepas ketergantungan.

Di akhir bincang santai bersama Bobo ada ungkapan menarik, proses belajar seseorang tidak akan berkembang jika hanya belajar dari apa yang ada disekitarnya, seseorang harus berani untuk keluar dari ‘kotak’ dan belajar dari orang lain untuk menemukan pengetahuan yang beragam.
Read More..
 
Design by Pocket