Sabtu, 10 Desember 2011
Jimpitan, Bantu Warga Penuhi Biaya Pendidikan
Perjuangan Mendesak Ratifikasi Konvensi Buruh Migran
Kamis, 03 November 2011
Purwanto, Tetap Bertahan di Arab Saudi Karena Keluarga
Rabu, 02 November 2011
Wawancara: Andreas Soge, Terpanggil untuk Peduli TKI
Minggu, 09 Oktober 2011
Warga Pandeyan Umbulharjo Gelar Pawai Bakdo Kupat
Read More..
Selasa, 08 Februari 2011
Menata Pertanian Setelah Erupsi Merapi
Kondisi setelah erupsi Merapi membuat warga Dusun Treko Magelang harus menata kembali kehidupan mereka. Pelbagai persoalan yang muncul pasca bencana seperti, perekonomian yang terhenti satu bulan lebih karena warga mengungsi, lahan pertanian yang harus diolah kembali, dan persoalan lain diperbincangkan dalam rembug warga Dusun Treko (22/01/2011). Pertemuan tersebut dilangsungkan di rumah Sutari, salah satu pamong di Dusun Treko, dari pukul 20.00 hingga 23.20 WIB.
Debu vulkanik Merapi yang dahulu menutupi persawaan milik warga dan membuat petani gagal panen, kini diharapkan mampu membuat tanah menjadi lebih subur. Pengetahuan tentang pengelolan lahan yang tepat sangat dibutuhkan warga. Melihat kebutuhan tersebut, Forum Warga Bantul dan infest Yogyakarta terlibat dalam pertemuan untuk membantu menggali pelbagai pendapat dari 25 kepala keluarga yang menghadiri pertemuan.
Muhyidin, pegiat Forum Warga Bantul sekaligus Ketua Lakpesdam NU Bantul, mengawali diskusi dengan memetakan persoalan yang sedang dihadapi warga. Sebagian besar persoalan yang ditangkap adalah persoalan pertanian. Warga Dusun Treko mayoritas adalah petani, mereka juga merawat lembu gaduh (ternak titipan), namun pengelolaan pertanian dan peternakan masih mereka lakukan dengan tingkat ketergantungan yang cukup tinggi pada sumber daya diluar mereka.
Muhyidin, Ketua Lakpesdam NU Bantul saat memfasilitasi rembug warga Treko
Saat sesi pemetaan, warga menyampaikan pelbagai kebutuhan pertanian yang masih harus penuhi dengan membeli atau berhutang. Persoalan pupuk misalnya, warga baru menyadari jika salah satu pupuk yang mereka beli ternyata mampu mereka produksi sendiri. Hal ini terjadi ketika Muhyidin meminta salah satu warga menunjukkan pupuk cair yang mereka beli. Setelah mengamati, Muhyidin menyampaikan jika pupuk organik cair yang dibeli warga diproses dari air kencing lembu, sesuatu yang sangat mudah didapat warga karena sebagian besar petani juga merawat lembu.
“ini bukan persoalan kita tertipu, namun distributor pupuk tersebut memiliki pengetahuan lebih dulu dari pada kita dalam mengelola air kencing sapi,” tutur Muhyidin.
Setelah mengurai beragam persoalan seputar pertanian, warga kemudian sepakat membuat kelompok-kelompok kerja. Kegiatan perdana yang akan dilakukan kelompok kerja adalah membangun fasilitas penampungan limbah di sekitar kandang lembu. Lima kelompok kerja, masing-masing dikoordinir oleh Sutari, Wiyoto, Nur, Pikir, dan Karni. Kelompok kerja tersebut menyepakati dana stimulan dari bantuan yang digalang infest untuk digunakan secara bergulir.
Berbekal perencanaan yang disusun pada pertemuan rembug warga, setiap kelompok kerja akan membangun penampungan limbah kotoran sapi di salah satu kandang milik anggota kelompok untuk dijadikan percontohan. Kemudian pupuk yang dihasilkan akan dibeli oleh anggota kelompok hingga dana bergulir terkumpul kembali dan digunakan membangun kandang milik anggota yang lain. Begitulah seterusnya hingga setiap anggota kelompok memiliki fasilitas penampungan limbah kotoran sapi dan mereka tidak perlu mengeluarkan uang untuk membeli pupuk.
Upaya secara perlahan akan dilakukan tim fasilitator infest dan Lakpesdam NU Bantul untuk mendampingi warga Treko, agar secara bertahap masyarakat menjadi mandiri dan lebih berdaya dengan memaksimalkan sumber daya di sekitar mereka.(LMX) Read More..
Budidaya Cacing, Manfaatkan Limbah Rumah Tangga
Limbah rumah tangga hingga saat ini belum mendapat perhatian dari masyarakat. Air detergen buangan dari kegiatan mandi, cuci, kasus (MCK), serta produksi sampah rumah tangga masih dianggap wajar dan aman untuk tidak dikelola. Padahal sisa buangan rumah tangga tersebut dapat membahayakan manusia dan lingkungan. Pengalaman Fathulloh (24), selama tinggal bersama 5 kawannya di rumah kontrakan, terkumpul satu bak besar sampah setiap hari. Selain menimbulkan bau, udara disekitar menjadi tidak nyaman. ”jika setiap hari satu rumah menghasilkan sampah sebanyak itu, maka benar jika pemkot Jogja mengatakan TPA Piyungan akan penuh pada 2012″ tambah Fathulloh. Limbah rumah tangga akan terus diproduksi, apabila tidak segera terkelola pencemaran lingkungan akan semakin parah pula.
Melihat kondisi diatas Baning (43), pegiat lingkungan hidup Jogja, dalam satu kesempatan pernah berbagi cara mengelola limbah rumah tangga lewat budidaya cacing tanah. Cacing tanah berwarna merah atau dalam bahasa latin di sebut Lumbricus Rubellus merupakan hewan pengurai yang sangat baik, cacing dapat mengurai sampah organik dan mengubah menjadi pupuk yang disebut “KASTING” yang sangat bermanfaat untuk tanah.
Selain menjadi pupuk, cacing ternyata kaya protein dan sangat baik untuk diolah menjadi pakan ternak. Mengelola limbah rumah tangga lewat budidaya cacing dapat dilakukan lewat langkah berikut:
1. Beli cacing bersama media dan kotak untuk memeliharanya.
2. Pilah sampah organik dan non organik.
3. Sediakan tempat sampah tambahan untuk sampah organik.
4. Pilah Sampah organik berupa sisa-sisa memasak dari dapur seperti, sisa nasi,
potongan sayur, buah, dll di kotak sampah khusus.
5. Biarkan sampah organik membusuk sebelum diberikan pada cacing.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait perawatan cacing, antara lain:
1. Pastikan kelembapan pada media hidup cacing, cacing tidak suka panas, jika memerlukan siram media dengan air.
2. Pastikan sampah organik yang akan diberikan cacing telah hancur atau dipotong kecil-kecil.
3. Pastikan keseimbangan populasi cacing dengan ketersediaan sampah organik setiap harinya. Satu kilo cacing dewasa sanggup menghabiskan bahan makan seberat bobot tubuh mereka setiap harinya, cacing akan terus bertelur dan berkembang biak.
Saat populasi cacing tidak seimbang dengan ketersediaan sampah organik, cacing dapat dipanen, untuk diolah menjadi pakan ternak. Ketika dipanen, media hidup cacing diganti dan media yang lama dipanen menjadi pupuk.
Setiap rumah tangga dapat membuat sirkulasinya sendiri. Lahan sekitar rumah bisa dimanfaatkan untuk membuat kolam ikan, air kolam diambilkan dari air buangan kamar mandi yang dialirkan melalui saluran yang telah dipasang saringan pembersih air (bebatuan, arang, jerami, serabut kelapa, dll), cacing yang dipelihara dapat dijadikan pakan ikan, ikan dipanen dan diolah menjadi lauk untuk konsumsi keluarga, begitulah sirkulasinya.
Budidaya cacing selain mendukung pengelolaan limbah rumah tangga juga memiliki potensi ekonomis apabila dikembangkan dalam skala besar. Hingga saat ini harga 1 kilogram cacing kualitas super mencapai Rp.50.000,-, dengan mengumpulkan sampah organik dari lingkungan sekitar, budidaya cacing oleh kelompok-kelompok di masyarakat dapat dijadikan gerakan alternatif untuk mengolah limbah rumah tangga. (LM)
Rujukan berupa gambar proses budidaya cacing dapat dilihat disini / sumber gambar di www.idepfoundation.org Read More..
Warga Banyumas Galang Komitmen Perlindungan BMI
Komitmen bersama mewujudkan perlindungan buruh migran Banyumas terus digalang oleh Paguyuban Perlindungan Buruh Migran dan Perempuan “Seruni” bersama Forum Solidaritas untuk Buruh Migran (Forsa BUMI) Kabupaten Banyumas. Sabtu (18/12/10), bertepatan dengan hari buruh migran sedunia, Forsa Bumi menggelar diskusi publik dengan tema “Membangun Komitmen Bersama untuk Perlindungan Buruh Migran” di Aula Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Jenderal Soedirman (FISIP UNSOED).
Diskusi tersebut dihadiri oleh berbagai pihak seperti Pemerintah Desa, Kecamatan, Kabupaten, Anggota DPRD, Dinsosnakertrans, Pejabat Imigrasi, Akademisi Kampus, Perwakilan PPTKIS, hingga berbagai lembaga/organisasi swasta di Banyumas. Hadir sebagai pembicara Tyas Retno Wulan (Pusat Penelitian Gender), Yoga Sugama (Anggota DPRD), Kartiman (Dinsosnakertrans), dan Rita (LBH Perisai Kebenaran), selama acara mereka dipandu oleh Jarot, Pegiat Rumah Aspirasi Budiman.
Saat diskusi berlangsung, satu persatu pembicara menyampaikan bebagai upaya perlindungan buruh migran yang telah dilakukan lembaga atau instansi yang mereka wakili. Persoalan yang paling disoroti selama diskusi ialah koordinasi yang kurang padu (sinergi) antara lembaga pemerintah. Yoga Sugama, perwakilan DPRD dengan tegas mempertanyakan janji Bupati Banyumas untuk membangun perekonomian daerah di tiap Kecamatan. “Jika janji Bupati membangun sektor industri daerah terwujud, Saya yakin angka pengiriman TKI akan turun drastis” Tutur Yoga Sugama.
Persoalan sinergi yang belum terbangun antar lembaga pemerintah tentang penanganan buruh migran juga disampaikan Tyas Retno Wulan. 80% persoalan buruh migran dijumpai saat buruh migran masih di Indonesia. Persoalan yang harus segera diurai justru persoalan di dalam negeri, salah satunya adalah membangun sinergi puluhan lembaga pemerintahan yang bersentuhan dengan penanganan buruh migran. “Hal yang sangat menyedihkan adalah statement SBY untuk membekali TKI dengan HP, ini sangat menunjukkan pemerintah tidak paham dengan subtansi persoalan TKI” papar Tyas, Dosen sekaligus Peneliti PPG Unsoed.
Diskusi berjalan semakin menarik, berbagai persoalan yang sebelumnya menjadi batu sumbatan diungkapkan secara terbuka di forum, perwakilan PPTKIS misalnya, mereka mempertanyakan prosedur pembuatan dokumen yang rumit, sehingga berpotensi penyesuaian dokumen atau pemalsuan identitas. Keterangan tersebut ditanggapi perwakilan aparat desa dengan fakta lapangan, bahwa banyak sekali calon buruh migran yang tidak mendapat rekomendasi dari pemerintah desa namun tiba-tiba lolos untuk berangkat ke luar negeri, ini membuktikan ada masalah pada alur rekomendasi dan prosedur keberangkatan TKI.
Diskusi yang masih berjalan menarik harus segera diakhiri moderator karena waktu yang terbatas, namun diakhir diskusi, Rita, perwakilan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Perisai Kebenaran menyampaikan gagasan membuat nota kesepahaman tiga pihak, dalam hal ini Pemerintah diwakili Dinsosnakertrans, PPTKIS diwakili APJATI, dan serikat buruh migran untuk membangun prinsip bersama untuk perlindungan buruh migran Banyumas. Menambahkan gagasan Rita, Tyas Retno Wulan berharap pada berbagai pihak yang hadir dalam diskusi publik, agar rekomendasi tentang upaya membangun sinergi perlindungan buruh migran tidak berhenti setelah diskusi, namun terus dikawal dan ditindaklanjuti
Read More..Berharap Pulihkan Pertanian, Korban Letusan Merapi Butuhkan Pupuk
Setelah seminggu terakhir posko JMN menerima banyak permintaan logistik dari korban letusan merapi yang mulai kembali ke kampung halamannya. Jum’at 19 November 2010 beberapa pesan singkat masuk ke nomor telepon genggam tim media JMN, salah satu pesan singkat datang dari Didik Mulyani asal Sawangan Magelang yang menyampaikan permintaan bantuan pupuk untuk petani di daerah Magelang yang lahan pertaniannya tertimbun abu vulkanik.
Beberapa pesan dengan permintaan yang sama juga masuk, namun Posko JMN tidak dapat berbuat apa-apa, selain detail data yang belum masuk, pegiat atau relawan di Posko JMN juga belum membicarakan persoalan perbaikan lahan di sekitar lereng Merapi. Pembicaraan pegiat posko masih seputar upaya menyembuhkan tauma lewat inisiasi terapi buku (bibliotheraphy).
Endapan vulkanik dalam waktu tertentu memang mendukung kesuburan tanah, namun pengetahuan pengelolaan tanah setelah letusan merapi menjadi sesuatu yang harus segera disosialisasikan. Sedang disisi lain petani terkena dampak merapi sudah tidak memiliki kekuatan secara ekonomi untuk kembali mengolah lahan.
Sektor ekonomi secara umum dan pertanian secara khusus harus menjadi perhatian pokok bagi pemerintah semala tahap perbaikan (recovery) setelah aktivitas Merapi reda. Read More..
Nira Kering, Petani Gula Kelapa Kehilangan Mata Pencarian
Gula kelapa diproduksi dari nira yang disadap dari batang buah pohon kelapa. Rasa manis gula kelapa kini tak semanis nasib petani penyadap nira di daerah Magelang. Letusan Merapi sejak 26 Oktober 2010 membuat pohon-pohon kelapa banyak yang mati.
Penduduk Dusun Bubusan Desa Teran Gede Kecamatan Salam Magelang misalnya yang sebagian besar menggantungkan mata pencariannya lewat kegiatan menyadap nira dan memproduksi gula kelapa kini tidak bisa berbuat apa-apa dikarenakan pohon kelapa milik warga mati.
“Karena letusan merapi, buah kelapa menguning dan ketika dibelah sudah tidak ada airnya” ujar Andri (30) salah satu petani nira di Bubusan. Sama halnya warga di Bubusan Salam, Sujarwo (54) warga Dusun Butuh Mungkidan Sawangan Magelang juga mengeluhkan pohon-pohon kelapa miliknya yang mati.
Kejadian tersebut menurut dosen ilmu fisika tanah UGM, Prof Dr Ir Bambang Djatmo Kertonegoro MSc dikutip dari detikcom, Senin (8/11/2010) dijelaskan berbagai tanaman mati karena partikel yang terkandung pada abu vulkanik menempel di daun dan menyebabkan mulut daun tertutup. Hal tersebut menyebabkan daun tidak dapat menyedot oksigen (mengganggu respirasi). Selanjutnya proses fotosintesis menjadi terganggu. Dalam kondisi mulut daun yang tertutup lama, tanaman akan menjadi layu.
Dukungan pakar pertanian dan tanaman untuk meneliti laik tidaknya keasaman tanah yang tertimbun abu vulkanik untuk kembali ditanami sangat diperlukan, sementara masyarakat masih penghasil nira masih mengandalkan kebutuhan sehari-hari dari bantuan Read More..
Selasa, 28 September 2010
Video-video penyiksaan TKI
Hal seperti Anda saksikan hanyalah sebagian, dari ratusan penyiksaan yang telah dilakukan oleh aparat polisi diraja Malaysia. Sikap tegas pemerintah menjadi kunci kebijakan untuk mengurai 'benang rewet' problematika Buruh Migran Indonesia, terlebih menindak tegas oknum/mafia/penjahat dari negeri sendiri. Read More..
Jumat, 24 September 2010
TKI Tunggu Realisasi Kredit Murah
Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang akan bekerja di luar negeri menunggu realisasi kesepakatan Pemerintah Republik Indonesia dan sejumlah bank tentang Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk TKI. Pemerintah memberikan jaminan 80 prosen dari total dana kredit mikro yang jumlahnya bisa 60 juta setiap orang.
Menteri Koordinator Perekonomian, Hatta Rajasa dalam Majalah Tempo 20-26 September 2010, mengatakan penjaminan tenaga kerja penting untuk mempermudah keberangkatan TKI ke luar negeri, sekaligus pemerintah bisa melakukan tindakan pemantauan. Lalu, Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia, Sofyan Basir menjelaskan KUR untuk TKI akan memutus jeratan rentenir. Selama ini para TKI telah menjadi korban lintah darat sejak pengurusan paspor dan visa. Baca Selanjutnya... Read More..
Kamis, 23 September 2010
Cacatan Pertemuan Bersama Bobo Yayasan Air Putih
Rabu, 22 September 2010 Infest mendatangkan tamu dari Yayasan Air Putih. Dia akrab dipanggil Bobo, lelaki lulusan SD yang sekarang mahir teknologi jaringan ini sengaja dijemput disela-sela kedatangannya di Yogykarta. Pada pertemuan sekitar satu jam dia banyak bercerita tentang proses belajar otodidak yang dia lakukan di luar jalur pendidikan formal. “Dalam hidup dibutuhkan keberanian untuk mempelajari sesuatu, mencoba dan melewati kegagalan” tuturnya.
Tentang keberanian untuk mempelajari sesuatu, oleh Bobo dikatakan segala pengetahuan ada jalan untuk mengakses baik lewat buku, internet, atau metode konvensional yang dianggap mujarab, yakni bertanya pada orang lain. Problem utama pengetahuan masyarakat Indonesia adalah dua sikap atas informasi, yakni pertama memiliki informasi namun tidak menghendaki untuk berbagi, kedua membutuhkan informasi tetapi tidak ingin mencari.
Seperti halnya pengetahuan yang terus dibagi dan dipertukarkan, Bobo pun berbicara tentang pentingnya penggunaan pelbagai perangkat lunak sumber terbuka, dimana mekanisme belajar bersama dan saling berbagi sumber kode akan terus dilakukan, hal ini sama sekali tidak mungkin dilakukan pada pengguna perangkat lunak berbayar. Selain itu menggunakan perangkat lunak sumber terbuka bagi beberapa orang adalah keberanian untuk melepas ketergantungan.
Di akhir bincang santai bersama Bobo ada ungkapan menarik, proses belajar seseorang tidak akan berkembang jika hanya belajar dari apa yang ada disekitarnya, seseorang harus berani untuk keluar dari ‘kotak’ dan belajar dari orang lain untuk menemukan pengetahuan yang beragam. Read More..
Senin, 30 Agustus 2010
Carut Marut Buruh Migran Potret Dunia Perburuhan di Indonesia
Hingga kini, kebijakan yang diambil pemerintah untuk menangani persoalan buruh belum serius, misalnya dalam urusan peningkatan mutu sumber daya manusia buruh. Pasokan tenaga kerja Indonesia didominasi oleh lulusan sekolah dasar ke bawah, yaitu sebesar 57,44 juta atau 49,52 prosen. Ironisnya, sumber daya yang dimiliki oleh unit-unit pelaksana teknis balai latihan kerja terbengkalai dan tidak terurus.
Baca Selanjutnya..... Read More..
Rabu, 18 Agustus 2010
Cerpen: Panjak Kali Wetan

Aku, satu waktu masih saja mendengar cerita tentang keberadaan tobong Wijaya Kusuma. Kelompok Ludruk di Jombang pimpinan Cak Madun. Melalui cerita tersebut aku dibawa mengaliri arus kehidupan Mbok Narsi. Perempuan tua yang sejatinya lahir sebagai lelaki namun dunia panggung Wijaya Kusuma lah yang memberikan ruang jiwa perempuan pada tubuh Mbok Narsi.
42 tahun lamanya dia bermain lakon, pengabdian yang akan melebihi setia abdi pada raja-raja jawa sekiranya panggung tobong miliknya tidak musnah diberangus.
….
“Wak Bayan ngeloni sapi, jarene prawan wetheng e kok geedi”, parikan itu masih lancar meluncur dari bibir keriput Mbok Narsi, sayup-sayup kudengar, suaranya yang serak menembus telingaku bersama aroma asap tungku pawon yang menyeruak hidung dan memaksa aku bangun.
“lee…. Somad… arek ganteng….Itu airnya sudah panas, bangun, sana kalau mau bikin kopi”, itulah keseharian ku, hidup bersama Mbok Narsi. Aku selalu dibangunkan oleh parikan-parikan yang masih dihafal betul oleh perempuan tua itu dan air panas yang selalu disediakannya untuk kuracik bersama dua sendok kopi bubuk dan sesendok gula pasir, sebelum aku bersiap berangkat kerja.
Pagi itu udara dingin begitu bebas menembus celah-celah gedhek, Mbok Narsi masih berlanjut, memegang gagang sapu dan seakan sibuk membersihkan pekarangan rumah yang hanya dua meter persegi. Aku duduk berteman segelas kopi dari meja yang menghadap lurus ke halaman, memandang jelas tubuh renta wanita itu. Entah pikiran apa yang memaksaku kembali menanyakan banyak hal tentang diriku, keberadaan ku bersama mbok Narsi sejak kecil, dirawat selayaknya anak sendiri, hingga saat ini aku menjadi lelaki dewasa yang bekerja sebagai kuli panjat perkebunan Cengkeh di Wonosalam.
Sekian lama aku sudah meredam pikiran itu dan telah pula kumantapkan di hati bahwa menemukan jawaban tentang siapa aku sama sekali tidak penting, karena ada hal yang lebih penting yakni menikmati hidup bersama Mbok Narsi, seniman ludruk yang setiap lekuk keriputnya menerjemahkan perjalanan panjang pengayom seni tradisi.
Saat Mbok Narsi masih bergulat dengan sapu dan halaman pekarangan, aku semakin larut dalam lamunan masa kecil ku, dua puluh tahun yang lalu, aku, Somad kecil yang akrab dengan dunia ludruk. Ludruk yang ku kenal saat kecil memiliki bagian-bagian yang runtut, dari tari ngremo dan kidungan, dagelan, dan alur cerita. Tiga bagian tersebut merupakan unsur yang tak terpisahkan di setiap pementasan ludruk, seperti yang dilakoni mbok Narsi.
Sementara itu, dua puluh tahun lalu ketika aku belum genap umur 5 tahun, saat kelompok tobong Wijaya Kusuma menggelar pementasan dan aku ikut didalam rombongan. Waktu itu panggung mulai ramai mendatangkan penonton dan pertunjukan pun dimulai dengan tari Ngremo yang merupakan tari Jawa Timur-an, sebuah gerakan tari yang mengambil filosofi kepahlawanan, kemudian disambung kidung atau parikan yang merupakan nyanyian berbentuk puisi lirik yang terdiri atas syair dan pantun yang diiringi rancak bebunyian gamelan Jawa Timur-an.
Ludruk, konon lahir sebagai sebuah konsep kesenian yang anti kemapanan, aku tahu betul itu karena struktur masyarakat Jawa Timur dahulu sangat feodal dengan corak kekuasaan yang penuh skandal dan korup, bagaimana jarak sengaja diciptakan antara rakyat dan status sosial seorang lurah atau bupati serta keluarganya. Jarak yang masih tersisa hingga sekarang. Dalam dominasi corak kekuasaan tersebut, dari pada melawan secara frontal, masyarakat memilih bentuk pasemon (sindiran) menjadi gerbang artikulasi yang populer untuk melahirkan kritik dan kontrol kebijakan penguasa saat itu yang dipraktikkan dengan ludruk sebagai medianya, dengan parikan sebagai pedang yang tajam dan siap mblejeti (menelanjangi) kebejatan-kebejatan moral sosial politik penguasa lewat permainan katanya yang kocak. Seperti cerita yang sering didongengkan Mbok Narsi, cerita tentang sosok Cak Durasim yang begitu berani meneriakkan perlawanan atas penjajah jepang melalui parikan-parikannya. Betapapun hingga sebelum mbok Narsi manggung malam itu, aku masih sangat merasakan semangat anti kemapanan dalam ludruk. Bagi anggota kelompok ludruk yang didirikan Cak Madun satu tahun setelah kemerdekaan, semacam telah menjalar pemahaman bersama bahwa adanya tobong Wijaya Kusuma bukan untuk urip tapi ngurip-nguripi, bukan untuk mencari penghidupan tapi untuk terus menghidupi tradisi dan menyuarakan kondisi disekitar.
……
Aku ingat, waktu itu awal tahun 1966, Cak Madun mengajak rombongan ludruk Wijaya Kusuma nobong di Nganjuk, di sebuah lapangan di samping rumah Solekan, warga jombang yang menikah dengan perempuan Desa Kali Wetan.
Karena kenal dengan Cak Madun, Solekan banyak membantu kebutuan rombongan, dari ijin lurah sampai mencarikan truk untuk membawa barang-barang tobong.
“Semua sudah tertata?” Tanya Cak Madun tak jelas pada siapa pertanyaan itu tertuju, sekadar memastikan kesiapan tata panggung. “ayo ngelumpuk sik” ajak Cak Madun pada semua anggota tobong, aku pun ikut duduk bersila bersama mbok Narsi, bersandar dibadannya dengan tangan yang masih setia memegangi kotak bedak yang ditugaskan mbok Narsi untuk membawanya.
“Panggung sudah jadi, besok malam kita pentas perdana di kampung Wak Solekan, nah kita mau pentaskan lakon apa untuk besok malam?” tukas Cak Madun ditengah para anggota tobong yang duduk melingkar. “Malaikat Kawin” celetuk Mbok Sarni begitu tegas yang segera disambut tawa khas panjak kendang Slamet dan membubarkan ide-ide yang dipikirkan para pemain yang lain. “Mbok Narsi……mbok Narsi, kamu itu sudah tua masih saja ingin kawin” ujar Slamet ditengah tawanya yang tak henti, mendengar komentar Slamet, Mbok Narsi pun segera bersoloh “Tuek lak umure, kon ga ndelok bodi ku ta? Ijik penuh vitamin rek..!” ruangan semakin riuh dengan tawa. Sementara, aku yang tak mengerti apa yang mereka tertawakan beranjak keluar dari lingkaran, mencari semak untuk kencing.
Saat menuju semak aku lebih dahulu mendapati sepasang sorot mata tajam dibalik semak, di sisi sebelah kiri lapangan, lama kudapati dia dan tampaknya begitu seksama mencuri dengar obrolan anggota tobong, kemudian berlari, dan menghilang tanpa bekas. Sejak saat itu, sosok yang menghilang dari semak menjadi tanda tanya besar dalam hidupku.
….
“Ndak kerja kamu le?” Tanya Mbok Narsi yang tiba-tiba berada disampingku dan membubarkan lamunanku tentang tobong Wijaya Kusuma dua puluh tahun yang lalu, “Hari ini aku di rumah saja Mbok..!, perasaan ku sedang tidak enak” jawabku sambil mengamati Mbok Narsi dengan nafas terengal memperbaiki ikatan sapu lidi yang kendor. “Mbok aku ingat saat kecil, saat bersamamu ikut rombongan tobong”, sejenak kata-kataku meluncur tak sedikitpun nenek tua itu memberi respon, baru kemudian aku sadar, bahwa sikap diam Mbok Narsi, sama hal nya dengan sikap diam yang dulu ditampakkannya saat mendengar kata tobong, ku dapati matanya berbinar menuntun angan ku berlanjut pada malam saat pentas dengan lakon “Malaikat Kawin” dilangsungkan. Sebuah lakon dari seloroh iseng Mbok Narsi yang disepakati anggota tobong.
Saat itu aku melihat dari lubang kecil di balik panggung, mendung sedang bergayut di atas langit Anjuk Ladang, kawasan bertemunya angin timur dan barat. Angin seakan telah menjadi teman karib penduduk Kali Wetan, mereka paham betul bahwa malam itu tak akan turun hujan, karena bintang timur telah menampakkan diri.
Begitulah kiranya pemahaman penduduk Kali Wetan yang kemudian tumpah memadati lapangan. Di sisi lapangan tampak berderet warung dadakan, ada pula pedagang tahu solet, bakul rokok, dan penjual kacang rebus. Aku tak tahu sejak kapan mereka datang dan aku tak peduli karena tugasku saat itu hanya dibalik panggung menjaga kotak bedak, kostum, serta pakaian para pemain ludruk.
Dibalik panggung aku pun tak pernah mengerti apa yang membuat penonton tertawa begitu ramai ketika beberapa pemain termasuk Mbok Narsi memasuki panggung, apakah karena gaya komikal mereka ataukah kekuatan irama kendang panjak Slamet yang begitu piawai mengikuti gerakan para pemain di panggung. Begitulah, malam itu penduduk Kali Wetan, benar-benar larut dalam tawa, terbawa oleh parikan-parikan konyol yang terkadang liar meletupkan soloroh cabul dari pemain ludruk Wijaya Kusuma.
Dibalik panggung aku tak bisa menikmati apapun dan hanya bermain sepotong kayu dan karet gelang. Malam itu langit berhasil mengusir mendung dan bulan leluasa memantulkan sinarnya di pucuk rerumputan. Dari kejauhan aku melihat titik-titik cahaya berbaris, bergerak menuju lapangan.
Angin sepertinya membawa kabur bebunyian gamelan, aku berada dalam kesunyian. Dua bola mataku benar-benar memandang titik cahaya yang berbaris di kejauhan. Namun terhentak kaget ketika dari pandanganku muncul bayangan sosok besar, berlari kearahku, terjatuh sekali, namun begitu cepat bangkit dan terus menuju ke arah ku, aku mundur beberapa langkah dan kudapati setengah mati dia berupaya mengatur nafas kemudian meluncur ucapan yang tampak berat untuk dikatakan.
“Moodd…mod..moddaarrr, lah kalian malam ini…. ” begitu bertenaga ia mengucapkan kata-kata itu, “hei…, cepat naik panggung, panggil Madun dan Mbok Narsi kemari…”bentaknya padaku.
Saat itu aku adalah Somad kecil yang benar-benar ketakutan. ”Cepaaat, katakan padanya ada panjak Kali Wetan”, lelaki yang tadi kulihat sebagai bayangan besar berteriak padaku dan dengan beberapa langkah cepat, aku tiba-tiba berada di atas panggung. Sontak penonton tertawa dan aku baru menyadari telah menjadi bagian dari dunia panggung.
Suasana di panggung tak terlalu ku perhatikan, karena aku lebih memikirkan bayang-bayang yang membentakku dan bagaimana menuruti keinginannya untuk menghadirkan Cak Madun dan Mbok Narsi.
Binar mataku polos menatap wajah garang Cak Madun, “ada panjak Kali Wetan” kukatakan sembari tenaga kecilku mencoba menyeret Cak Madun dan Mbok Narsi, semantara panggung dan kehadiran ku membuat Cak Madun dan Mbok Narsi yang sedang beradegan menjadi ling-lung mendadak, kehilangan kata dan dengan seketika menggendongku keluar panggung, tertinggal mbok Narsi, “lhooo….lho..lhoo…sak iki konangan, wis duwe anak gelap, playumu nang endi tak parani….” Begitulah Mbok Narsi merespon kehadiranku dan dialognya sebagai motifasi untuk keluar panggung, mengejarku dan Cak Madun.
Dibalik panggung Cak Madun tak kuasa melepas cengkraman lelaki yang tadi kulihat sebagai bayangan besar yang kemudian ku ketahui bernama Juwono, panjak dari Kali Wetan yang dahulu pernah bergabung dengan Wijaya Kusuma, namun kini menjadi gembong serikat tani di Blitar, begitu kiranya kudengar lirih dari mulutnya yang didekatkan di wajah Cak Madun, sementara aku dalam gendongannya mendongak memperhatikan dengan jelas dua potret wajah, ketakutan dan kebingungan, kemudian keduanya membaur menjadi teror yang mencekam setelah Juwono menyampaikan berita pembubaran tobong.
Juwono menarikku dari gendongan Cak Madun dan mengoper badan kecilku ke bahu Mbok Narsi sambil membisikkan sesuatu dan tiba-tiba kami berpencar pontang-panting seperti gerombolan orang yang kesurupan, dengan tenaga limbung aku di bawa lari Mbok Narsi ke semak-semak yang menuju ke arah sungai. Aku rasakan betul dadanya berpacu kencang.
Saat itulah aku kembali menghadap titik-titik cahaya dan kini telah berubah menjadi semacam pucuk-pucuk api yang saling berkumpul menjadi delapan bagian yang berderet, dengan gemuruh yang membuat jantung siapapun berdegup,”Ganyang PKI….Ganyang PKI….Ganyang Lekra…”.
Titik api itu semakin jelas adanya adalah obor yang di bawa oleh pelbagai sosok dengan mata garang yang terus berteriak dari atas truk yang setelah dewasa ku ketahui sebagai truk komando. Aku kerutkan dahi untuk mendapati lebih jelas pemandangan itu, namun guncangan di bahu Mbok Narsi membuat semuanya kabur. Memang malam itu semua berupaya kabur, angin pun tiba-tiba kabur, “Mbok kita mau kemana?”tanyaku. Bukan jawaban yang ku terima, tetapi mendadak aku dilempar ke atas lumpur persawahan, sementara itu mata ku tak mau lepas menoleh kebelakang, melihat titik api itu buyar, menyebar ke segala penjuru tobong dan sisi lapangan.
“Ganyang PKI…Ganyang….Lekra, Bangsat, kepalang Laknat, Ganyang Gembong Setan..”, meskipun lirih masih sayup ku dengar teriakan dilapangan, seperti kulihat juga cahaya malam memantul jelas dari mata Mbok Narsi yang semakin berair, bedak dan gincu menor itu luntur oleh keringat. Dengan cepat Mbok Narsi melepas sanggul yang bergelantungan di pundaknya, kemudian dengan tenaga lelakinya ia mengambil ancang-ancang dan melompat tepat disampingku, terjerembab, lututnya belepotan lumpur, namun bergegas menyeret ku, menyibak tanaman padi yang masih sangat muda.
Beberapa saat, gemuruh dilapangan Kali Wetan halus berganti dengan gemuruh air sungai yang terdengar seakan menawarkan perlindungan dan betapa kami telah merasa cukup jauh dari lapangan, menyaksikan asap putih menggumpal diatas tobong Wijaya Kusuma, Mbok Narsi menggendongku, tangannya menutup erat dua mataku, terasa kasar, keringat yang bercampur lumpur, dan aku dibawanya lari hingga pulas, tak terasa aku sudah tertidur, berada diayunan dokar dan entah membawa kami menuju kemana.
….
Plak…! Mbok Narsi yang sejak tadi duduk disampingku, tiba-tiba menamparku “jangan kau ingat lagi pelarian itu”, aku terperanjat kaget dengan keringat yang benar-benar menetes dari kening dan merayap keseluruh permukaan tanganku yang terasa bergetar. Bangsat..! aku benar-benar sadar telah begitu jauh larut dalam petualangan dua puluh tahun masa laluku.
Seketika kujulurkan tanganku, ku ambil segelas kopi dan ketenggak habis hingga pahit ampasnya yang dingin itu tak kurasa. Kemudian kusingkirkan keringat bangsat di dahiku, sementara ku dapati pula pipiku juga basah entah karena keringat bangsat itu ataukah dari air yang bersumber di sudut pelupuk mataku. Persetan, tak akan aku pedulikan, karena apa yang ada di kepalaku saat ini tak kuasa ku tahan untuk segera ku tanyakan, “Aku anak siapa Mbok, kau lelaki tak mungkin melahirkan?”, “diantara tobong yang tebakar itu ada tubuh bapakmu”, “gembong komunis, yang menolak mentah ketenarannya sebagai panjak Kali Wetan, bajingan berkumis yang menitipkan bayinya padaku lima tahun sebelum tobongku terbakar, namun mendadak dia hadir kembali, mengumpat dan menyuruh kita berlari, sementara tubuhnya hangus terbakar karna menyelamatkan kita…”.
Tiba-tiba mataku kosong, menyadari nada bicara Mbok Narsi yang semakin memuncak memaksakan nafas tuanya yang tipis, mengantarku pada sosok Juwono, bayangan besar yang mucul dari semak kali wetan sebelum semuanya menjadi abu.
Terik dan geliat kehidupan diluar tak sedikitpun berani mendekati aku dan Mbok Narsi yang sedang berkecamuk dalam perang masa lalu, kudapati hidung tuanya menarik cukup banyak udara disekitar, “Somad, Kau, anak Juwono”, itulah kalimat pendek Mbok Narsi, begitu mantab, dan membekapku dalam kebisuan, menyadari darah yang bergejolak dan mengaliri nadiku adalah darah Juwono, Panjak alias pemukul gamelan yang tersohor di Kali Wetan, yang hangus tubuhnya menjadi tumbal ruh Komunisme di tanah jawa. Pada sudut yang lain kudapati pula luka yang mengutuk sekujur tubuh mbok Narsi sebagai wandu, karena dominasi agamalah yang melarang peran wanita di atas panggung ludruk dan dominasi agama pula yang kemudian melarang keras ketika tubuh lelaki Mbok Narsi tak kuasa merubah peran wanita yang biasa ia lakoni di panggung dan membawanya ke dunia keseharian sebagai seorang wandu.
….
Dipeluknya aku erat-erat dalam derai air mata jiwa seorang wandu, didekatkan mulutnya di selembar telinga kananku, “kuburkan aku sebagai lelaki, nanti jika aku mati, dan biarlah puas ku kutuk mulut rohaniawan itu dalam kubur….”, sebuah pesan terakhir yang mengantarkan cahaya mentari tepat di ujung atap gubuk tua, pusara derita yang menyisakan aku bersama Mbok Narsi, terkapar, bergumul makian dan sumpah serapah, ditengah hiruk pikuk pinggiran kota yang menyimbolkan warna merah dan hijau dalam satu ikatan padu.
Ah.. Bangsat Aku Bukan Siapa-siapa..!
-Selesai-
Lamuk, 16 Agustus 2010 Read More..
Rabu, 31 Maret 2010
Saatnya Buruh Migran Berbagi Informasi
Selalu ada yang memakan daging saudaranya sendiri, dan pemimpin negeri kita bahkan memakan dagingnya sendiri-Kejahatan pemerintah dan korporat atas Tenaga Kerja Indonesia(TKI)-, Sudahlah tidak usah kuliah...! Jadi TKI saja..! jika kelak kau pandai, dan jadi pejabat negeri ini, kau hanya akan membohongi mereka.
Rasaya diatas meja negeri ini, telah menumpuk buku "kisah tragis" tentang TKI, Siti Hajar,
Dalam rangka menyiapkan sumberdaya pengelola informasi buruh migran, Yayasan Tifa bersama Pusat Teknologi Komunitas(PTK) Mahnetik dan LAKPESDAM NU Cilacap mengadakan pelatihan pengelolaan informasi buruh migran selama 2 hari (29-30 Mei 2010) bertempat di Sidareja Cilacap. Pelatihan ini diikuti 27 peserta dari mantan Tenaga Kerja Indonesia(TKI), keluarga TKI, penggiat Radio Komunitas, dan anggota Forum Warga Cilacap dari beragam usia. Pelatihan ini dipandu oleh Yossy Suparyo dan tim fasilitator dari infest Jogjakarta.
Selama 2 hari pelatihan, secara bertahap peserta belajar pengelolaan informasi, dimulai dengan belajar teknik peliputan, menulis berita dan pengenalan portal http://buruhmigran.or.id di hari pertama dan dilanjutkan dengan produksi berita suara di hari kedua.
"Pelatihan serupa akan diadakan di 14 titik di Indonesia. Cilacap merupakan titik pertama yang akan menjadi model untuk pelatihan di daerah lain." ungkap Yossy Suparyo, pengembang portal http://buruhmigran.or.id. Disela-sela penyampaian materi Dia juga mengatakan kedepan pertukaran informasi tentang buruh migran diharapkan dapat memancing banyak orang untuk berpartisipasi pada gerakan perlindungan buruh migran.
Ada beberapa hal menarik selama pelatihan, selain menjadi pengalaman pertama bagi para peserta dalam kerja pengelolaan informasi tentang buruh migran, cerita pengalaman yang dibagikan peserta mantan TKI menjadi inspirasi untuk saling menulis dan mendokumentasikan dalam berita suara. Pelatihan ditutup dengan sebuah rencana tindaklanjut membuat gerakan solidaritas untuk mengembangan pusat sumberdaya buruh migran.(Fath) Read More..
Sabtu, 23 Januari 2010
emak
dalam perbincangan sebuah mimpi
yg tumpah pula bagai bah
maka,
akulah yg harus sabar memangku lelah
menanti kembali kokok ayam sedari siang
dan semoga ku tak tertidur
saat kekasih datang....................!
bismillahku adalah mantra
antar jeda dan waktu yg datang
dari deret nama yang hanya satu kusebut
saat aku didalam tubuhnya
tak satu ku jumpai
ada mainan dan tawa meja makan
hanya bismillah ia berpesan
dan doa dalam iyyakanakbudu-nya.
mantabkan dan mantabkanlah. Read More..
Jumat, 24 Juli 2009
Temukan Pengetahuan Dalam Saujana

Banyak hal dianugerahkan Sang Pencipta pada tubuh manusia. Mata salah satunya. Sejauh organ ini berfungsi secara baik, mata senantiasa setia menampilkan ragam bentuk benda dan pemandangan yang dilihat manusia. Pengalaman manusia dalam melihat banyak bentuk di sekitarnya itu berangkat dari satu kata yang disebut saujana.
Kata saujana dalam Kamus Bahasa Indonesia Edisi 3 Terbitan Balai Pustaka berarti: mata (memandang); sejauh mata memandang; sepemandang mata (sau.ja.nan), kebanyakan orang cenderung akrab dengan kata lanskap yang memiliki kesamaan makna, yakni bentang alam di mana batasan yang ada adalah batasan indera untuk merasakan dan sejauh mata memandang. Namun, dua kata tersebut memiliki rasa bahasa yang berbeda. Kata saujana terdengar lebih khas indonesia dan cukup membuat banyak orang terpancing untuk mengetahui kata tersebut lebih jauh.
Pelbagai hal yang dilihat manusia dewasa ini hanyalah selintas pandang. Pengalaman melihat sesuatu tidak disertai keinginan untuk mengenal pengetahuan tentang benda-benda yang dilihat. Contoh sederhana, manusia melihat bunga, namun ketika ditanya "apa nama bunga tersebut?" terkadang sekadar dijawab "tidak tahu". Apabila manusia berhenti pada kata "tidak tahu", maka tertutup pula pengetahuannya tentang bunga yang dilihatnya. Jadi, semakin kita tidak mempedulikan benda-benda yang kita lihat maka semakin banyak pula pengetahuan yang terlewatkan.
Pada suatu ketika di sebuah wisma Kaliurang. Seorang kawan bernama Yossy Suparyo mengajak kawan lain yang bernama Irmawati untuk bermain saujana. Pada permainan ini Irma diminta untuk mencari tahu sepuluh nama tumbuh-tumbuhan yang ada di sekitar wisma dengan dua kali kesempatan bertanya pada orang lain. Alhasil pekerjaan tersebut baru terselesaikan dalam jangka waktu 17 menit. Ternyata butuh perjuangan berat hanya untuk menyebutkan sepuluh nama tumbuhan di antara puluhan tumbuhan yang ada di sekitar wisma.
Cerita tentang permainan saujana tersebut dapat menjadi sebuah refleksi, betapa banyak sesuatu, benda, peristiwa dan pemandangan dalam saujana kita yang tidak kita kenal. Lantas jika demikian apakah tepat pertanyaan ini : miskinkah pengetahuan kita? Read More..
Sabtu, 18 Juli 2009
Zamzani, Bertahan Bersama Kaset Kuno

Saya masih ingat betul, bersama seorang kawan berburu kaset album terbaru Bond yang berjudul Born. Itu terjadi di akhir tahun 2000 atau sekitar 9 tahun yang lalu.Pengalaman saya tersebut menjadi akhir riwayat kaset tape. Perkembangan teknologi mulai menggeser kebiasaan banyak orang menggunakan kaset. Kaset sebagai media penyimpan data dalam bentuk audio (kebanyakan digunakan industri musik untuk menyimpan lagu) tergantikan oleh media dijital (mp3).
Di antara banyak orang yang telah meninggalkan kaset, Zamzani adalah satu dari sedikit orang yang masih saya jumpai berkutat bersama kaset. Setiap pagi di depan Pasar Beringharjo Malioboro dia menata ratusan koleksi kasetnya. Berbekal seperangkat sound system seadanya, dia berjualan hingga jam 10 malam. Dengan penghasilan rata-rata 20 ribu rupiah perhari Zamzani harus menghidupi satu orang istri dan tiga orang anak. Di usianya yang sudah melebihi setangah abad dia masih gigih untuk bekerja.
Zamazani menjual koleksi album dari dalam maupun luar negeri, mulai yang bergenre rock, gregorian hingga dangdut melayu. Koleksi tersebut didapatkan dari berburu dan orang-orang yang menjual kaset kepadanya.Berjualan kaset tape di zaman sekarang menurut Zamzani adalah berjualan barang yang sama sekali tidak populer di masyarakat. Pembeli kaset dilapaknya kebanyakan hanya para kolektor kaset atau para fans berat suatu group musik atau seorang penyanyi.
Lagu-lagu Koesplus, Leo Kristi dan Titik Sandora merupakan nomor album favorit di lapak Zamzani yang banyak buru para kolektor. Untuk 1 kaset dijual dari Rp.10.000,- hingga Rp.40.000 tergantung kaset bajakan atau asli, meski ada juga kaset bajakan yang dijual, tapi itu bukan sembarang kaset bajakan. Biasanya kaset bajakan yang dijual adalah kaset yang benar-benar langka(sudah tidak dijual lagi). pada prinsipnya semakin dicari sebuah judul kaset oleh para kolektor maka semakin mahal pula harga kaset itu di jual.
Bagi para pembeli hal yang harus diperhatikan adalah kejelian, bila tidak, pembeli bisa jadi tertipu. Karena ada juga kaset bajakan yang dijual, boks dan cover kaset sangat mirip dengan aslinya. Jika pembeli atau kolektor menemukan kaset original, maka dia harus siap-siap menebus dengan harga tinggi. Jika barang yang ditemukan tidak ada, maka pembeli dapat meninggalkan nomor hp untuk dihubungi jika barang atau koleksi yang dicari telah ditemukan Zamzani.
Di akhir dialog saya dengan Zamzani, dia menceritakan sebuah kejadian menarik saat kematian raja musik pop dunia Michael Jackson(MJ) menjadi berita besar. Kios Zamzani tiba-tiba ramai didatangi para penggemar MJ dari berbagai daerah. kaset lagu-lagu MJ yang dimiliki Zamzani pun terjual habis dan kematian MJ tampaknya menjadi rejeki bagi Zamzani.
*) Foto diambil dari http://lentera-hitamputih.blogspot.com Read More..
Rabu, 29 April 2009
“Plencung Two” : Upaya teater Ruang mengamankan sisa tanggul Budaya

"Bapak ku sopo....ibuk ku sopo...." dan "kaline Banjir, dam e ambrol, banjir henpon, bajir kulkas, banjir tivi, banjir sepeda motor......", "Tooooongggggg, tooong..."
Dialog sosok gadis kecil tersebut mengawali dan menjadi puncak emosi pada Pagelaran Jagongan Wagen edisi April 2009 yang menampilkan pementasan naskah “Plencung Two” Teater Ruang, Senin 27 April 2009 di Padepokan Seni Yayasan Bagong Kussudiardja, Tamantirto, Kasihan, Bantul. Teater RUANG sebagai Kelompok teater yang didirikan pada tanggal 30 Juni 1994 ini, memang sering menggarap pertunjukan dengan tubuh sebagai media utama dan materi minimal sebagai media pelengkap dalam setiap pementasan mereka. Selain itu juga menggarap lakon-lakon berbahasa Jawa yang merefleksikan situasi sosial, serta karakter yang khas dari teater ruang dalam mengangkat isu-isu globalisasi, modernisasi dan arus gempuran budaya asing di negeri ini.
“Plencung Two”, dihantarkan lewat tembang Sinom ”SULUK PLENCUNG” yang bercerita nama-nama setan yang menghuni pulau Jawa oleh seorang gadis kecil dengan permainan korek api sebagai medium pencahayaannya. luar biasa, permaiana korek api dipadu gerak ritmis, menjadi bagian awal yang mengejutkan pemonton. hingga Plencung dinyalakan, Plencung sebuah lampu tradisional. Terbuat dari bambu yang di atasnya diberi gumpalan tanah merah lalu dilecutkan atau dilencungkan, biasanya alat ini dipakai untuk mengusir burung di persawahan. kemudian permainan gerak menjadi perhatian luar biasa para penonton ketika adekan sosok tanpa kepala berjalan kedepan dan kebelakang plencung. tampak pada adegan tersebut sang aktor seakan benar-benar terpenggal kepalanya padahal dalam kondisi sebenarnya, sang aktor menengadahkan kepalanya benar-benar kebelakang hingga dilihat dari depan kepala sang aktor tak tampak, namun permainan cahaya plencung menjadi bagian kuat adegan per adegan. cahaya minim plencung dengan nuansa mistis mengejutkan penonton lewat sosok gadis kecil yang sekan terangkat dan terbang berputar-putar sebagai gerak simbolik jebolnya bendungan budaya kita.
hal menarik lainnya adalah pencarian bentuk gerak di luar kemampuan fisik manusia umum. misal adegan 2 aktor berjalan dengan kepala dan 2 buah tangan sebagai kaki, split dan salto-salto. ketika seorang penonton bertanya pada mas Bibit "kenapa mas...pola latihan teater Ruang terkesan militeristik dan tidak manusiwi, dimana belajar berjalan dengan tangan dilakukan sampai tangan aktor bengkak dan bl..bla..bla.." sedikit tersenyum mas Djoko Bibit, pimpinan Teater Ruang menjawab"ketika proses kita semacam itu dalam rangka pencarian dan pemaksimalan fungsi serta gerak tubuh maka akan berbeda ketika manusia hanya memfungsikan tubuh duduk sekian lama di depan televisi, tidur-tiduran sambil menelfon, bersepeda motor kemana-mana dan sekarang mana yang lebih manusiawim antara melatih dan memaksimalkan fungsi tubuh atau melakukan hal2 macam disebut tadi?".
"Plencung Two" menyampaikan kritik sosial dimana Benda2 yang sifatnya bukan kebutuhan utama masyarakan kini telah menjadi bagian dalam kehidupan yang harus dan mau tak mau dipenuhi meskipun kemampuan materi tak mendukung. hal sederhana ditangkap dari kehidupan di sekitar sanggar teater Ruang yang terletak di Pereng Tanggul Kalurahan Danukusuman - Surakarta. anak petani ngambek memaksa dibelikan HandPhone, para pemuda desa menuntut beli motor dan ragam contoh lainnya.
Sajian teater Ruang tampaknya benar2 berangkat dari proses latihan yang panjang kurang lebih yang disebutkan mas Bibit adalah waktu selama 7 bulan. dengan tantangan memilih waktu latihan malam sampai menjelang subuh. keterlibatan anak-anak desa sekitar bermula dari niat mereka menonton mas Bibit dan kawan2 latihan hingga oleh mas Bibit mereka diajak latihan, bergerak bebas dan baru oleh Mas Bibit diterjemahkan dalam sebuah naskah.
Wehhh.. keren kali eui..... Read More..
