Kini tiap malam Wajah Baru dipasang
disekitar perempatan, tepi jalan atau pohon sekenanya
ssst... Kita copot saja wajah yang ini
yaaa.... terlalu lama ia kena panas hujan
nahh.. kalo yang itu..tu .. ga masalah, diakan calon pusat
Gojrenk...Gojrenk...Gojrenk...
SingKirkan Wajah-wajah Liar
ini Wilayah Wajah yang ga Bayar..
malam menertibkan wajah liar,
Siang wajah laku dijual di pasar ?
layaknya mereka meloak-kan diri...
di jalan..
Read More..
Selasa, 03 Februari 2009
Rabu, 14 Januari 2009
Monyet Naik Daun, Cari Diksi Lain Donk...!
Rabu, 14 Januari 2009
0
Dasar MONYET lu...!!
MONYET-MONYET..!! udah jam segini belum pada dateng..!!
Emang lu kayak MONYET,
Dasar keturunan MONYET...!
Yah begitulah semalama ini MONYET, nama hewan mamalia dari jenis primata itu dijadikan manusia sebagai kata makian, ejekan atau bahkan hinaan, bersandingan dengan deretan kawannya yang lain, ANJING, BABI, JANGKRIK, KERBAU, KAMBING, TIKUS, ANGSA (he3) dll. mMmm entah sejak kapan dan siapa yang memulainya, kata-kata makian yang melibatkan kaum binatang, senantiasa keluar tanpa beban. Pertama melihat kecenderungan makian atau sejenis cercaan yang menggunakan nama2 binatang, saya hanya menyadari itu hanya sebuah penyimbolan, semacam pemberian gelar, ambil kata makian "ANJ***NG", diungkapkan seseorang dengan imaji "Kau seperti Anjing", begitupun "MONYET lu","BABI lu" dan ungkapan sejenisnya. pemberian gelar semacam itu rasanya lebih pada kata-kata yang digelarkan, dalam hal ini beberapa ungkapan makian yang menggunakan nama binatang bermaksud kurang lebih seperti itu dan beruntung mereka para Binatang yang namanya dijadikan ungkapan MAkian tak Marah sedikitpun atau bahkan menuntut royalty.
Melihat fenomena ini saya mencoba mempertemukan dengan model-model kata makian yang bersifat localgeneus, saya dilahirkan di Jombang dan Akrab dengan kata-kata semacam "DANCUK","DIAMPUT" serta "GATEL", saya melihat kata-kata ini lebih bersifat netral tidak menyinggung para Binatang, lebih dalam lagi ungkapan ini hadir hanya sebagai kata-kata semata, "DANCUK" ya dancuk saja, tak memiliki arti, tidak menyama-nyamakan atau menyimboli lawan bicara dengan apapun. hal yang lebih menarik ternyata kata-kata yang dalam bahasa daerah saya disebut "PISUHAN" itu sangat fleksibel dalam penggunaannya, tidak serta merta menjadi ungkapan makian kala marah saja, namun mampu berkembang menjadi sebentuk unkapan rasa kangen kala bertemu teman lama, "Dancoooook...Piye Cok Kabarmu..??", secara mendasar yang namanya Pisuhan itu tergantung pada emosi kala mengungkapkannya, dengan emosi marah, emosi gembira, rindu berat atau emosi yang datar.
Nahh... setelah memperbandingkan dua jenis kata makian diatas, rasanya kita butuh sejumlah kreatifitas mencipta sebuah ungkapan, meninjau lebih jauh apakah itu masuk akal, menyinggung atau bahkan rasis. saya dan kawan2 KLUB SENI MISUH resah bahwa dewasa ini MAKIAN/MISUH merembet ke wilayah2 rasis, dengan menyebut nama suku misalnya.
padahal untuk menggunakan nama hewan saja kita tampaknya harus malu karna beberapa telah Monyet pun naik daun menjadi bintang iklan layanan seluler.
ahhh... Dancuklah daku.... ini
Senin, 12 Januari 2009
Menjadi Simbol-Simbol Yahudi
Senin, 12 Januari 2009
0
Menjadi Simbol-Simbol Yahudi
Inilah manusia
upaya berkuasa
menjadi raja
inilah hati
kekuasaan itu mati
menjadi cemeti
inilah rasa
kebencian atas cinta
kitapun menjadi yahudi Read More..
Inilah manusia
upaya berkuasa
menjadi raja
inilah hati
kekuasaan itu mati
menjadi cemeti
inilah rasa
kebencian atas cinta
kitapun menjadi yahudi Read More..
Sandiwara Sumpah dan Tipu Daya

Dua Bulan lebih pasca Kemah Seni Sanggar Nuun 2008, para calon penghuni bahtera Sanggar Nuun di tempa berbagai latihan, dari olah vocal, olah tubuh, karakter, musik dan beragam latihan lain ala Sanggar, proses latihan panjang ini akan bermuara pada pementasan dua Naskah teater, Naskah pertama berjudul “Bul Diapusi” yang ditulis oleh Theo Sunu Widodo dan disutradarai Mukhosis Nur. Dalam naskah ini menceritakan bagaimana pentingnya menanggapi “nguri-uri kabudayan” yang beberapa waktu ini sering menjadi selogan masyarakat. Namun demikian para pemain dunia “rahasia” berbondong-bondong memanfaatkanya untuk meraih keuntungan sebanyak-banyaknya. Karena pelestari budaya (tradisi) cenderung masyarakat yang udik, lugu dan mudah dimanfaatkan. Langen mandra wanara adalah salah satu kelompok yang dijadikan lahan oleh si Tan Kie Boel, namun di balik peristiwa “Bul Diapusi” ada satu rencana yang telah digariskan. (?)
Kemudian naskah kedua berjudul “Sampah Waktu Sumpah Batu” menceritakan raja yang senang berpetualang, suatu kali menyamar sebagai rakyat jelata, menilik sejauh mana rakyatnya menikmati pemerintahanya. Dia lantas menyadari, pemerintahanya berlangsung timpang dan kejam. Dia ingin memperbaiki keadaan itu dengan mengorbankan dirinya, bersekongkol dengan kawanan perampok, ikut menciptakan kejahatan dimana-mana, agar rakyatnya bangkit melawan dirinya. Sampai akhirnya ada intrik di tubuh istana yang digerakan senopati, yang menbuat segala rencananya terpaksa harus diganti. Naskah tersebut di tulis oleh muhammad tri muda’i. disutradarai oleh Abda Rifqi Rizzal.
So sepertinya mulai tampak siapa yang mampu bertahan dan siapa yang tersingkirkan, siplah tinggal nunggu tanggal 7 Februari 2009 nanti,
Pastinya ni proses aku yang kebetulan pas jadi Ketua Panitia Kemah Seni so Aku pun yang Hendle Produksinya, tapi Banyak orang hebat lainnya di Sanggar dan itu yang membuatku Yakin untuk belajar jadi hebat. Read More..
Selasa, 06 Januari 2009
Memory: Kartolo was a comedian ludruk legendary from Surabaya
Selasa, 06 Januari 2009
0

Selama kurun 80-an hingga pertengahan 90-an ada hiburan yang selalu dinanti dari radio ke radio, mulai anak2, ABG, bapak2, Ibu2, bagitu akrab dengan masyarakat Jawa Timur saat itu, yahh Ludruk Cak Kartolo cs . Dengan 4 sekawan (Sapari, Munawar, Basman dan Ning Kastini), merajai dunia dagelan Jawa Timuran (Suroboyoan). teringat masa2 SD, melihat bapak asyik mendengarkan dagelan Kartolo, beberapa file mp3 aku download dari pakdenono.com.
yeah humor2 renyah, cerdas dan lugas membicarakan realitas dalam setiap lakon, sekian cerita yang dibawakan begitu menampakkan local genius, khas suroboyoan, ceplas-ceplos dan terkadang melantur dengan imajinasi liar.
Cerita dimulai dengan Jula-juli, dengan parikan pos yang menggelitik seperti :
Teju mare teplek
Lombok abang kari ngulek
Mulo nek masak sing iso sedep
Mulo mangan e cik telap-telep,
Jangan terong di gawe janganan
Iwak tempe di campur tahu
Mulo nek uwong nek doyan mangan
Mulo awak e cik cepet lemu
Iwak bandeng mangan iwak ucenk,
Iwak hiu nek mangan tumpeng
Mulo kenditono sampek metenteng
nek wong lemu lak pancen ayu,
yu yu yu mbak ayu dadi prawan ojo nguya-ngguyu,
dasar e anteng rupane ayu
dituturi wong tuo ayo podo di gugu,
seje maneh mbarek sing bengesan
senegane kluyuran,
saben dino terus begadang
tapi ga iso mbumboni jangan...
namung semanten syairan kulo
sae lan mboten purun kareso
ditinggal awa-awe
molo dagelan iki kancane dewe... (lakon:Penghijauan).
dagelan yang cerdas, fresh serta tema-tema yang dekat dengan rakyat kecil membuat membuat, Ludruk Cak Kartolo Cs lekat tak terpisahkan dari bagian Masyarakat Jawa Timur, selain sejarah ludruk yang kental dengan bentuk2 perlawanannya, Cak Kartolo Cs pun Mengemas sekian kririk-kritik sosial lewat parikan dan lakon2, hal yang bikin kita betah dengerin dagelan Cak Kartolo ialah alur-alur cerita yang uning, terkadang mbulet namun senantiasa selesai dengan Coro Ludruk (saya membahasakan uraian hal2 rumit dengan cara tengah yang sederhana),.
mengingat Cak Kartolo, Adalah membaca legenda dan kesuksesan luarbiasa seni tradisi (Ludruk)pada masa itu. yho ngerungokno dagelan Cak Kartolo ae timbang pusing mikir krisis BBM. (download e di http://pakdenono.com/mp3_comedian_kartolo.htm#001 ) Read More..
Sandal
urip sepisan kui nunjuk no kejujuran ne
Gerobak reot itu ditepikan disisi rumah kardus Karman, seharian itu dia telah kembali pulang, setelah menyisir alun-alun kidul dan sepanjang gang-gang Malioboro hingga jalan solo, mengais apapun barang yang dibuang banyak orang di tempat sampah untuk dikumpulkan, dipisah dan dijual pada pengepul, geliat hangat matari sore itu masih mengantarkannya pada kesibukan memisah botol-botol plastik dan kardus, “sekian banyak sandal yang bapak kumpulkan?” sambil mengantar segelas air, supri anak karman satu-satunya tetap tak digubris,”kenapa tak kau pilih yang terbaik untuk kau pakai sendiri?”, “biarpun kanan-kirinya tak sama, biarlah kaki bapak terlindung sandal itu”, begitu datar karman berkata“ini...kupilih beberapa pasang berikan lik Giat dan bu dhe Narti ”,”aku lelaki yang terbiasa dengan basah dan panasnya tanah jalanan”, kemudian supri menggumam dan pergi ke rumah lik Giat dan bu dhe Narti "Sandal akan lindungi Kakimu yang mengering pecah itu..!!" begitulah dialog terakhir sore itu beriringan dengan riuh bocah kali code mengakhiri dolanan mereka.
****
Sepagi itu kumpulan burung gereja dibubarkan Amarah karman, dua-tiga tamparan punggung sandal supri terima tepat di kepala, semakin memerah saja mata karman menghajar, dan memerah pula mata supri menahan tangis yang entah mengapa tak mau meneteskan air mata, " DARI MANA SANDA INI..????" "KATAKAN..!!", "dad...dad..dad..dari Masjid Pak", "KAU MENCURI", "Iya HaH KAU MENCURI","KATAKAN KAU MENCURI??", tak terkendali Karman terus melayangkan pukulan dari punggung sandal, yang gemetar dia genggam erat, namun sebentar terhenti karna teriakan supri "Tat..Tapi ini buat BAPAK KERJA..", Karman menghela serasa kehabisan nafas "KERJAAAA...!! hAH", "Apa KERJA KAU BILANG..!!!" serasa mendapatkan kembali tenaganya, sebuah pukulan sangat keras diterima bahu kanan Supri,"Heiiiii...ANAK KARMAN TIDAK MENCURI", semakin dirasa kesakitan batin dan tubuh supri, ia pun menghindar dan berlari pergi meninggalkan Karman yang memerah tersengal-sengal, "PERGI KAU....JANGAN KEMBALI..Annak karman tidak mencuri, tidak mencuri" tubuhnya lemas bersamaan dengan menghilangnya bayangan Supri.
****
pergulatan Supri adalah pergulatan mimpi dan kerak tebal di jiwa karman, mimpi menghadirkan keyamanan bagi kaki kering Karman dan keteguahan yang mengerak tebal pada diri karman, selama matahari bergerak supri tak sadar telah begitu jauh menyusuri jalanan, merasakan sapaan panas aspal, dan masih dalam kurungan bayang-bayang sang Bapak, pikiran-pikiran tentang kejadian tadi Pagi dikelolanya dalam otak, sepanjang jalan beberapa kali ia menjumpai sandal tang terbuang di jalan, tak berpasang, utuh, putus ataupun rusak taktampak bentuk. langkahnya tak terhentikan, melewati beberapa toko sandal, memandang sejenak tak memberikan kesan sedikit pun dalam pikirannya, karna yang ada hanyalah gaung suara Karman "ANAK KARMAN TIDAK MENCURI..!!", beberapa langkah ia memutuskan duduk di pelataran sebuah Mal di Jalan Solo, terdengar lirih obrolan sepasang remaja yang duduk sedikit jauh di sampingnya, sebuah obrolan yang terdengar menyebut satu kata "SANDAL", sekuat mungkin Supri mengupayakan pendengarannya, menyimak obrolan sepasang kekasih itu, sebait obrolah tentang hadiah tahun baru, sebuah Sandal koleksi butik Sandal Yongki Komaladi, sebuah hitungan rupiah yang terlalu muluk-muluk untuk sebuah sandal itu, menambah bahan pikir baru bagi Supri dan memutuskan kembali berjalan merenungi tiga buah kata, SANDAL,MENCURI dan KEHIDUPAN. pemandangan lalu lalang manusia dijalan mengembalikan kesadarannya akan peran SANDAL menemani gerak manusia, dan mimpi itu adalah upayanya tadi pagi, hadiah Sandal pada Karman yang justru memicu merah wajah Karman Marah penuh emosi, sebuah sikap teguh mengupayakan sesuatu pada jalannya, apapun kondisinya. lagi-lagi bentakan itu meneror telinga Supri "Anak KARMAN TIDAK MENCURI...!!!".
****
SANDAL di sandang ndang Bhudal, begitulah bocah itu mencoba menerjemahkan, mereka tak kan Bhudal tanpa SANDAL, "ahhh aku pun akan berangkat mendapatkannya", "Pak e, Karman kita akan bhudal, dan bukan dengan upayaku mencuri tadi pagi...", "Aku akan mendapatkannya tanpa MENCURI","sebelum aku berhenti melangkah", supri berjalan menyusuri kampung Catur Tunggal, beragam pertemuan dan dialong singkat di jalan ia lalui, hingga penggambaran kembali ceritanya pagi tadi pada seorang kakek tua di sebuah teras rumah, sebuah penceritaan ulang yang membuat kakek itu menitipkan pesan bagi Karman berupa Sandal lily tipis yang tampak masih menyisakan kekuatan. begitu riang Supri mengakhiri pertikaian yang bergeriak di otaknya, membawa sebuah SANDAL berbungkus slam seorang kakek untuk KARMAN, dikejarnya matari senja, berlari bahagia, melewati pematang Sawah, jalan tikus menuju bedeng kardus rumah karman, membawa sebuah MIMPI, yang ingin dihadirkannya pada Karman...."BAPAAAAAAK AKU BUKAN PENCURIIIIII"
****
Deru tangis, rasakan begitu dalam menahan isak, terputus-putus dan tak terbendung jua air mata itu..., tangisan mimpi yang pecah di ujung senja pamatang sawah makam Kenangan, Supri menyadari upayanya menghadirkan mimpi, tak tergapai, upaya hanya sekedar upaya, mimpi takbisa jadi acuan, keinginan yang selalu membayangi hanyalah teror, dan ia menunduk lesu tanpa SANDAL di Tangan setelah beberap menit yang lalu ia dikeroyok sekelompok pemuda mabuk, di sudut makam, kejadian itu menjadi buntut teriakan riang Supri berlari melewati sekelompok pemuda sambil mengangkat tinggi-tinggi Sandal pemberian seorang kakek,"WOOOII PAAAK INI SANDAL UNTUKMU", teriakan itu mengumpulkan arah pandang para pemuda pada Supri, seakan ditantang mereka pun menghajar Supri dan merampas Sandal di tangannya.......lantas menderu-deru tangis itu dan matari pun tenggelam, menenggelamkan upaya Supri menghadirkan sebuah Mimpi. Read More..
Gerobak reot itu ditepikan disisi rumah kardus Karman, seharian itu dia telah kembali pulang, setelah menyisir alun-alun kidul dan sepanjang gang-gang Malioboro hingga jalan solo, mengais apapun barang yang dibuang banyak orang di tempat sampah untuk dikumpulkan, dipisah dan dijual pada pengepul, geliat hangat matari sore itu masih mengantarkannya pada kesibukan memisah botol-botol plastik dan kardus, “sekian banyak sandal yang bapak kumpulkan?” sambil mengantar segelas air, supri anak karman satu-satunya tetap tak digubris,”kenapa tak kau pilih yang terbaik untuk kau pakai sendiri?”, “biarpun kanan-kirinya tak sama, biarlah kaki bapak terlindung sandal itu”, begitu datar karman berkata“ini...kupilih beberapa pasang berikan lik Giat dan bu dhe Narti ”,”aku lelaki yang terbiasa dengan basah dan panasnya tanah jalanan”, kemudian supri menggumam dan pergi ke rumah lik Giat dan bu dhe Narti "Sandal akan lindungi Kakimu yang mengering pecah itu..!!" begitulah dialog terakhir sore itu beriringan dengan riuh bocah kali code mengakhiri dolanan mereka.
****
Sepagi itu kumpulan burung gereja dibubarkan Amarah karman, dua-tiga tamparan punggung sandal supri terima tepat di kepala, semakin memerah saja mata karman menghajar, dan memerah pula mata supri menahan tangis yang entah mengapa tak mau meneteskan air mata, " DARI MANA SANDA INI..????" "KATAKAN..!!", "dad...dad..dad..dari Masjid Pak", "KAU MENCURI", "Iya HaH KAU MENCURI","KATAKAN KAU MENCURI??", tak terkendali Karman terus melayangkan pukulan dari punggung sandal, yang gemetar dia genggam erat, namun sebentar terhenti karna teriakan supri "Tat..Tapi ini buat BAPAK KERJA..", Karman menghela serasa kehabisan nafas "KERJAAAA...!! hAH", "Apa KERJA KAU BILANG..!!!" serasa mendapatkan kembali tenaganya, sebuah pukulan sangat keras diterima bahu kanan Supri,"Heiiiii...ANAK KARMAN TIDAK MENCURI", semakin dirasa kesakitan batin dan tubuh supri, ia pun menghindar dan berlari pergi meninggalkan Karman yang memerah tersengal-sengal, "PERGI KAU....JANGAN KEMBALI..Annak karman tidak mencuri, tidak mencuri" tubuhnya lemas bersamaan dengan menghilangnya bayangan Supri.
****
****
SANDAL di sandang ndang Bhudal, begitulah bocah itu mencoba menerjemahkan, mereka tak kan Bhudal tanpa SANDAL, "ahhh aku pun akan berangkat mendapatkannya", "Pak e, Karman kita akan bhudal, dan bukan dengan upayaku mencuri tadi pagi...", "Aku akan mendapatkannya tanpa MENCURI","sebelum aku berhenti melangkah", supri berjalan menyusuri kampung Catur Tunggal, beragam pertemuan dan dialong singkat di jalan ia lalui, hingga penggambaran kembali ceritanya pagi tadi pada seorang kakek tua di sebuah teras rumah, sebuah penceritaan ulang yang membuat kakek itu menitipkan pesan bagi Karman berupa Sandal lily tipis yang tampak masih menyisakan kekuatan. begitu riang Supri mengakhiri pertikaian yang bergeriak di otaknya, membawa sebuah SANDAL berbungkus slam seorang kakek untuk KARMAN, dikejarnya matari senja, berlari bahagia, melewati pematang Sawah, jalan tikus menuju bedeng kardus rumah karman, membawa sebuah MIMPI, yang ingin dihadirkannya pada Karman...."BAPAAAAAAK AKU BUKAN PENCURIIIIII"
****
Deru tangis, rasakan begitu dalam menahan isak, terputus-putus dan tak terbendung jua air mata itu..., tangisan mimpi yang pecah di ujung senja pamatang sawah makam Kenangan, Supri menyadari upayanya menghadirkan mimpi, tak tergapai, upaya hanya sekedar upaya, mimpi takbisa jadi acuan, keinginan yang selalu membayangi hanyalah teror, dan ia menunduk lesu tanpa SANDAL di Tangan setelah beberap menit yang lalu ia dikeroyok sekelompok pemuda mabuk, di sudut makam, kejadian itu menjadi buntut teriakan riang Supri berlari melewati sekelompok pemuda sambil mengangkat tinggi-tinggi Sandal pemberian seorang kakek,"WOOOII PAAAK INI SANDAL UNTUKMU", teriakan itu mengumpulkan arah pandang para pemuda pada Supri, seakan ditantang mereka pun menghajar Supri dan merampas Sandal di tangannya.......lantas menderu-deru tangis itu dan matari pun tenggelam, menenggelamkan upaya Supri menghadirkan sebuah Mimpi. Read More..
Langganan:
Postingan (Atom)