Kamis, 03 November 2011

Purwanto, Tetap Bertahan di Arab Saudi Karena Keluarga

Kamis, 03 November 2011 0

Purwanto bin Sudaryanto (32), Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Desa Sojomerto, Kecamatan Reban, Kabupaten Batang, Jawa Tengah yang diberangkatkan ke Arab Saudi oleh PT Marba pada September 2006. Alih-alih mengejar sukses di Arab Saudi, Purwanto justru menjalani kehidupan yang keras. Bersama Al-Ghomas, majikan petamanya di Arab Saudi, Purwanto hanya bertahan 75 hari (dua setengah bulan) bekerja sebagai sopir. Ia kemudian kabur dari majikan pertama karena tidak menerima gaji dan mendapat perlakukan buruk saat menuntut hak-haknya.
Berstatus TKI yang kabur dari majikan menjadikannya tenaga kerja asing yang bermasalah dalam kaca mata hukum Pemerintah Arab Saudi, artinya Purwanto dianggap melanggar hukum karena kabur dari majikan.
Read More..

Rabu, 02 November 2011

Wawancara: Andreas Soge, Terpanggil untuk Peduli TKI

Rabu, 02 November 2011 0

Wawancara dengan Andreas Soge, pegiat buruh migran asal Larantuka, Nusa Tenggara Timur. Berawal dari perkenalan di media jejaring sosial (Facebook), Fathulloh, salah satu anggota redaksi Pusat Sumber Daya Buruh Migran (PSD-BM) berkenalan dan mewawancarai Andreas Soge (43), seorang pegiat buruh migran asal Larantuka yang juga bergabung dalam organisasi Serikat Buruh Migran Indonesia wilayah Kepulauan Riau (SBMI Kepri). Berikut kutipan wawancaranya:
Fathulloh:
Selamat Malam.
Andreas Soge:
Malam juga.
Fathulloh:
Mas, kami pernah membaca informasi tentang kegiatan Anda mengawal kepulangan TKI dari Malaysia dari dinding Facebook, bisakah diceritakan bagaimana awal mula keterlibatan Anda dalam pemulangan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal NTT pada pertengahan Oktober kemarin?
Read More..

Minggu, 09 Oktober 2011

Warga Pandeyan Umbulharjo Gelar Pawai Bakdo Kupat

Minggu, 09 Oktober 2011 0
Ratusan Warga Kampung Wisata Pandeyan, Umbulharjo, Yogyakarta berkumpul di depan Balai RW untuk menyemarakkan pawai dalam rangka perayaan “Bakdo Kupat” (10/09/2011). Bakdo Kupat atau lebaran kupat digelar pada hari ke 10 setiap bulan Syawal (tahun hijriyah) sebagai rangkaian peringatan Hari Raya Idul Fitri.
Read More..

Selasa, 08 Februari 2011

Menata Pertanian Setelah Erupsi Merapi

Selasa, 08 Februari 2011 0


Kondisi setelah erupsi Merapi membuat warga Dusun Treko Magelang harus menata kembali kehidupan mereka. Pelbagai persoalan yang muncul pasca bencana seperti, perekonomian yang terhenti satu bulan lebih karena warga mengungsi, lahan pertanian yang harus diolah kembali, dan persoalan lain diperbincangkan dalam rembug warga Dusun Treko (22/01/2011). Pertemuan tersebut dilangsungkan di rumah Sutari, salah satu pamong di Dusun Treko, dari pukul 20.00 hingga 23.20 WIB.

Debu vulkanik Merapi yang dahulu menutupi persawaan milik warga dan membuat petani gagal panen, kini diharapkan mampu membuat tanah menjadi lebih subur. Pengetahuan tentang pengelolan lahan yang tepat sangat dibutuhkan warga. Melihat kebutuhan tersebut, Forum Warga Bantul dan infest Yogyakarta terlibat dalam pertemuan untuk membantu menggali pelbagai pendapat dari 25 kepala keluarga yang menghadiri pertemuan.

Muhyidin, pegiat Forum Warga Bantul sekaligus Ketua Lakpesdam NU Bantul, mengawali diskusi dengan memetakan persoalan yang sedang dihadapi warga. Sebagian besar persoalan yang ditangkap adalah persoalan pertanian. Warga Dusun Treko mayoritas adalah petani, mereka juga merawat lembu gaduh (ternak titipan), namun pengelolaan pertanian dan peternakan masih mereka lakukan dengan tingkat ketergantungan yang cukup tinggi pada sumber daya diluar mereka.
Muhyidin, Ketua Lakpesdam NU Bantul saat memfasilitasi rembug warga Treko


Saat sesi pemetaan, warga menyampaikan pelbagai kebutuhan pertanian yang masih harus penuhi dengan membeli atau berhutang. Persoalan pupuk misalnya, warga baru menyadari jika salah satu pupuk yang mereka beli ternyata mampu mereka produksi sendiri. Hal ini terjadi ketika Muhyidin meminta salah satu warga menunjukkan pupuk cair yang mereka beli. Setelah mengamati, Muhyidin menyampaikan jika pupuk organik cair yang dibeli warga diproses dari air kencing lembu, sesuatu yang sangat mudah didapat warga karena sebagian besar petani juga merawat lembu.

“ini bukan persoalan kita tertipu, namun distributor pupuk tersebut memiliki pengetahuan lebih dulu dari pada kita dalam mengelola air kencing sapi,” tutur Muhyidin.

Setelah mengurai beragam persoalan seputar pertanian, warga kemudian sepakat membuat kelompok-kelompok kerja. Kegiatan perdana yang akan dilakukan kelompok kerja adalah membangun fasilitas penampungan limbah di sekitar kandang lembu. Lima kelompok kerja, masing-masing dikoordinir oleh Sutari, Wiyoto, Nur, Pikir, dan Karni. Kelompok kerja tersebut menyepakati dana stimulan dari bantuan yang digalang infest untuk digunakan secara bergulir.

Berbekal perencanaan yang disusun pada pertemuan rembug warga, setiap kelompok kerja akan membangun penampungan limbah kotoran sapi di salah satu kandang milik anggota kelompok untuk dijadikan percontohan. Kemudian pupuk yang dihasilkan akan dibeli oleh anggota kelompok hingga dana bergulir terkumpul kembali dan digunakan membangun kandang milik anggota yang lain. Begitulah seterusnya hingga setiap anggota kelompok memiliki fasilitas penampungan limbah kotoran sapi dan mereka tidak perlu mengeluarkan uang untuk membeli pupuk.

Upaya secara perlahan akan dilakukan tim fasilitator infest dan Lakpesdam NU Bantul untuk mendampingi warga Treko, agar secara bertahap masyarakat menjadi mandiri dan lebih berdaya dengan memaksimalkan sumber daya di sekitar mereka.(LMX)
Read More..

Budidaya Cacing, Manfaatkan Limbah Rumah Tangga


Limbah rumah tangga hingga saat ini belum mendapat perhatian dari masyarakat. Air detergen buangan dari kegiatan mandi, cuci, kasus (MCK), serta produksi sampah rumah tangga masih dianggap wajar dan aman untuk tidak dikelola. Padahal sisa buangan rumah tangga tersebut dapat membahayakan manusia dan lingkungan. Pengalaman Fathulloh (24), selama tinggal bersama 5 kawannya di rumah kontrakan, terkumpul satu bak besar sampah setiap hari. Selain menimbulkan bau, udara disekitar menjadi tidak nyaman. ”jika setiap hari satu rumah menghasilkan sampah sebanyak itu, maka benar jika pemkot Jogja mengatakan TPA Piyungan akan penuh pada 2012″ tambah Fathulloh. Limbah rumah tangga akan terus diproduksi, apabila tidak segera terkelola pencemaran lingkungan akan semakin parah pula.
Melihat kondisi diatas Baning (43), pegiat lingkungan hidup Jogja, dalam satu kesempatan pernah berbagi cara mengelola limbah rumah tangga lewat budidaya cacing tanah. Cacing tanah berwarna merah atau dalam bahasa latin di sebut Lumbricus Rubellus merupakan hewan pengurai yang sangat baik, cacing dapat mengurai sampah organik dan mengubah menjadi pupuk yang disebut “KASTING” yang sangat bermanfaat untuk tanah.
Selain menjadi pupuk, cacing ternyata kaya protein dan sangat baik untuk diolah menjadi pakan ternak. Mengelola limbah rumah tangga lewat budidaya cacing dapat dilakukan lewat langkah berikut:
1. Beli cacing bersama media dan kotak untuk memeliharanya.
2. Pilah sampah organik dan non organik.
3. Sediakan tempat sampah tambahan untuk sampah organik.
4. Pilah Sampah organik berupa sisa-sisa memasak dari dapur seperti, sisa nasi,
potongan sayur, buah, dll di kotak sampah khusus.
5. Biarkan sampah organik membusuk sebelum diberikan pada cacing.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait perawatan cacing, antara lain:
1. Pastikan kelembapan pada media hidup cacing, cacing tidak suka panas, jika memerlukan siram media dengan air.
2. Pastikan sampah organik yang akan diberikan cacing telah hancur atau dipotong kecil-kecil.
3. Pastikan keseimbangan populasi cacing dengan ketersediaan sampah organik setiap harinya. Satu kilo cacing dewasa sanggup menghabiskan bahan makan seberat bobot tubuh mereka setiap harinya, cacing akan terus bertelur dan berkembang biak.
Saat populasi cacing tidak seimbang dengan ketersediaan sampah organik, cacing dapat dipanen, untuk diolah menjadi pakan ternak. Ketika dipanen, media hidup cacing diganti dan media yang lama dipanen menjadi pupuk.
Setiap rumah tangga dapat membuat sirkulasinya sendiri. Lahan sekitar rumah bisa dimanfaatkan untuk membuat kolam ikan, air kolam diambilkan dari air buangan kamar mandi yang dialirkan melalui saluran yang telah dipasang saringan pembersih air (bebatuan, arang, jerami, serabut kelapa, dll), cacing yang dipelihara dapat dijadikan pakan ikan, ikan dipanen dan diolah menjadi lauk untuk konsumsi keluarga, begitulah sirkulasinya.
Budidaya cacing selain mendukung pengelolaan limbah rumah tangga juga memiliki potensi ekonomis apabila dikembangkan dalam skala besar. Hingga saat ini harga 1 kilogram cacing kualitas super mencapai Rp.50.000,-, dengan mengumpulkan sampah organik dari lingkungan sekitar, budidaya cacing oleh kelompok-kelompok di masyarakat dapat dijadikan gerakan alternatif untuk mengolah limbah rumah tangga. (LM)
Rujukan berupa gambar proses budidaya cacing dapat dilihat disini / sumber gambar di www.idepfoundation.org
Read More..

Warga Banyumas Galang Komitmen Perlindungan BMI


Komitmen bersama mewujudkan perlindungan buruh migran Banyumas terus digalang oleh Paguyuban Perlindungan Buruh Migran dan Perempuan “Seruni” bersama Forum Solidaritas untuk Buruh Migran (Forsa BUMI) Kabupaten Banyumas. Sabtu (18/12/10), bertepatan dengan hari buruh migran sedunia, Forsa Bumi menggelar diskusi publik dengan tema “Membangun Komitmen Bersama untuk Perlindungan Buruh Migran” di Aula Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Jenderal Soedirman (FISIP UNSOED).

Diskusi tersebut dihadiri oleh berbagai pihak seperti Pemerintah Desa, Kecamatan, Kabupaten, Anggota DPRD, Dinsosnakertrans, Pejabat Imigrasi, Akademisi Kampus, Perwakilan PPTKIS, hingga berbagai lembaga/organisasi swasta di Banyumas. Hadir sebagai pembicara Tyas Retno Wulan (Pusat Penelitian Gender), Yoga Sugama (Anggota DPRD), Kartiman (Dinsosnakertrans), dan Rita (LBH Perisai Kebenaran), selama acara mereka dipandu oleh Jarot, Pegiat Rumah Aspirasi Budiman.

Saat diskusi berlangsung, satu persatu pembicara menyampaikan bebagai upaya perlindungan buruh migran yang telah dilakukan lembaga atau instansi yang mereka wakili. Persoalan yang paling disoroti selama diskusi ialah koordinasi yang kurang padu (sinergi) antara lembaga pemerintah. Yoga Sugama, perwakilan DPRD dengan tegas mempertanyakan janji Bupati Banyumas untuk membangun perekonomian daerah di tiap Kecamatan. “Jika janji Bupati membangun sektor industri daerah terwujud, Saya yakin angka pengiriman TKI akan turun drastis” Tutur Yoga Sugama.

Persoalan sinergi yang belum terbangun antar lembaga pemerintah tentang penanganan buruh migran juga disampaikan Tyas Retno Wulan. 80% persoalan buruh migran dijumpai saat buruh migran masih di Indonesia. Persoalan yang harus segera diurai justru persoalan di dalam negeri, salah satunya adalah membangun sinergi puluhan lembaga pemerintahan yang bersentuhan dengan penanganan buruh migran. “Hal yang sangat menyedihkan adalah statement SBY untuk membekali TKI dengan HP, ini sangat menunjukkan pemerintah tidak paham dengan subtansi persoalan TKI” papar Tyas, Dosen sekaligus Peneliti PPG Unsoed.

Diskusi berjalan semakin menarik, berbagai persoalan yang sebelumnya menjadi batu sumbatan diungkapkan secara terbuka di forum, perwakilan PPTKIS misalnya, mereka mempertanyakan prosedur pembuatan dokumen yang rumit, sehingga berpotensi penyesuaian dokumen atau pemalsuan identitas. Keterangan tersebut ditanggapi perwakilan aparat desa dengan fakta lapangan, bahwa banyak sekali calon buruh migran yang tidak mendapat rekomendasi dari pemerintah desa namun tiba-tiba lolos untuk berangkat ke luar negeri, ini membuktikan ada masalah pada alur rekomendasi dan prosedur keberangkatan TKI.

Diskusi yang masih berjalan menarik harus segera diakhiri moderator karena waktu yang terbatas, namun diakhir diskusi, Rita, perwakilan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Perisai Kebenaran menyampaikan gagasan membuat nota kesepahaman tiga pihak, dalam hal ini Pemerintah diwakili Dinsosnakertrans, PPTKIS diwakili APJATI, dan serikat buruh migran untuk membangun prinsip bersama untuk perlindungan buruh migran Banyumas. Menambahkan gagasan Rita, Tyas Retno Wulan berharap pada berbagai pihak yang hadir dalam diskusi publik, agar rekomendasi tentang upaya membangun sinergi perlindungan buruh migran tidak berhenti setelah diskusi, namun terus dikawal dan ditindaklanjuti

Read More..
 
Design by Pocket